Minggu, 04 Juli 2021

Bunda Cita: Karena Kesuksesan Tidak Akan ada Artinya Ketika Keluarga Berantakan

 

Potret bunda cita bersama keluarga yang diunggah di akun instagramnya @citahelmy

Menjadi seorang professional dalam dunia hiburan menuntut totalitas yang tidak setengah-setengah Oleh karena itu lingkungan yang kondusif adalah suatu keniscayaan bagi seorang professional untuk meraih kesuksesan. Namun dengan tetap menomor satukan keluarga adalah hal yang sangat penting, “Karena kesuksesan tidak akan ada artinya ketika keluarga berantakan, keluarga adalah tempat berpulang juga sumber kebahagiaan, dan bahagia adalah ketika berada di tengah-tengah keluarga,” ucap nur cita qomariyah

Bunda cita, panggilan yang sering disematkan untuk dirinya yang menjadi seorang dosen, juga penyanyi, entertainer dan masih banyak profesi yahg saat ini ia tekuni. Dibalik padatnya jadwal pekerjaan yang dimiliki, bunda cita adalah seorang ibu dan juga seorang istri di keluarga kecilnya. Di akun media sosialnya ibu dari 3 anak ini, tak jarang mengabadikan moment bersama keluarga, dari menyelenggarakan acara, ataupun liburan bersama.

Mesi begitu menyita banyak waktu, bunda cita adalah sosok yang sangat menikmati semua pekerjaan, menurutnya semua profesi yang saat ini ditekuni adalah hal yang menyenangkan, selalu membuatnya hepy dan menjadikan dirinya bahagia. “saya melakukan apa yang saya sukai, dan saya menyukai apa yang saya lakukan.” Pungkasnya

Cita sendiri memiliki sejumlah profesi yang saat ini sedang ditekuni seperti menjadi dosen di universitas islam negeri sunan ampel Surabaya, ia juga seorang owner dari cita entertainment, aktif menjadi presenter di beberapa channel tv, seorang pengajar di cita public speaking and broadcast, pembisnis dan juga model ambassador dibeberapa merek dan masih banyak yang lainnya.

Dari semua profesinya tak heran sosoknya memiliki banyak prestasi dan juga pencapaian yang sangat luar biasa, usahanya dari kampung hingga gedung, dari bersama pengamen hingga mampu bersanding dengan presiden dan masih banyak pencapaian yang bisa dikatakan sukses dalam sepanjang kariernya.

Dari semua kerja keras dan hasil pencapaiannya sebagai seorang wanita karir dan juga pembisnis, bunda cita juga bisa bisa dikatakan sukses dalam menjadi seorang ibu. Bagaimana tidak, dari ketiga anaknya Tidak ada satupun yang mengikuti bakatnya, meski begitu sebagai seorang ibu yang ingin anaknya bahagia dan sukses, bunda cita memilih untuk mensupport apapun bidang yang ingin diambil dan ditekuni oleh anak anaknya.

Menurun bakat dari sang ayah dibidang multimedia, ketiga anak nur cita qomariyah ini memiliki kecerdasan dan juga kretaivitas dalam mengolah audio visual. “saya sendiri sempat berharap semoga anak anak saya tidak menjadi penyanyi seperti saya,” katanya. bagi cita sendiri dengan bakat dan minat anak anaknya yang  berbeda, justru membuat dirinya bangga dengan kemampuan yang mereka miliki.

Menurut bunda cita, definisi sukses dalam menjadi seorang ibu adalah saat anak- anak bisa mencintai ibunya dengan tulus, nyaman dengan kehadirannya, dan kehadirannya selalu dirindukan oleh anak anaknya. “dengan demikian maka ikatan batin antara anak, ibu, keluarga itu menjadi terjalin, dan ketka ikatan sebuah rumah tangga terjalin maka kita akan saling support,” terang bunda cita

Menjadi figure ibu dan juga dosen, bunda cita mengingatkan pada seluruh mahasiswa untuk selalu yakin bahwa apapun yang kita mimpikan akan tercapai dan menjadi kenyataan pada suatu hari nanti. Dengan terus belajar dan menggali apapun yang menjadi bakat dan minat yang dikuasai masing masing. Beliau juga menambahkan “ عند نفسه mulailah dari diri sendiri.”

Nama: St. Namirotul Hidayah (B91218143) / JR 3 / Praktikum 1


Kisah Sukses : Berawal dari Hobi menjadi Karir

 

Sangat menghayati : Cita saat menyanyi di acara pembukaan Zhenghe Internasional Peace Forum ke-5 yang diadakan di JX International

Disiplin, profesional dan barokah. Itulah tiga kata yang tepat untuk menggambarkan wanita hebat satu ini. Hidup di lingkungan yang dekat dengan bidang tarik suara membuat wanita yang bernama lengkap Nur Cita Qomariyah ini memiliki hobi menyanyi sejak kecil. Menurutnya sebuah hobi yang dikelola dengan baik dan berada di lingkungan yang baik akan berkembang dengan maksimal dan bisa dijadikan sebagai profesi. Dari situlah ia mengubah hobi menjadi sebuah karir yang ditekuni sampai saat ini.

Mengawali karirnya dari nol dengan hanya bermodalkan kepercayaan. Cita bersama dengan suaminya Helmy M. Noor yang berprofesi sebagai jurnalis mulai merintis Cita Entertainment.  Cita yang sejak kecil memiliki hobi menyanyi, kemudian oleh suaminya difasilitasi dengan kemunculan Cita Electone yang awalnya hanya menyediakan jasa MC dan Electone shalawat religi saja.

Dengan mendapat dukungan penuh dari suaminya untuk mengembangkan potensi diri dan berkarir, ia terus menggali pengalaman dengan terus menjadi MC dan menyanyi di berbagai kesempatan dan acara. Pada awalnya, klien dari Cita Entertainment hanya berasal dari narasumber dan relasi terdekat saja.

Kemudian dari situlah banyak klien yang merasa puas dengan pelayanannya dan seiring berjalannya waktu, semakin banyak permintaan yang berdatangan hingga Cita Entertainment mampu meng-handle event-event besar baik Nasional maupun Internasional dengan propertinya sendiri. Bagi Cita, berkarir di dunia yang disenangi adalah melakukan kesenangan yang dibayar.

“Saya mencintai apa yang saya lakukan dan saya melakukan apa yang saya cintai,” Kata Cita melalui voice note WhatsApp pada Selasa (29/6).

Sejak awal merintis Cita Entertainment, ia dan suami telah berkomitmen untuk tidak menerima bantuan dari siapapun. Bahkan dahulu, Cita dan suami kerap kali menggunakan Angguna (angkutan serba guna) untuk berangkat bekerja. Transportasi legendaris Surabaya inilah yang slalu setia menemani perjalanannya setiap hari. Hal inilah yang membuat angguna memiliki kesan tersendiri di hati Cita.

“Dulu ada angkutan namanya angguna. Sebelum kami memiliki 13 unit mobil, kami memanfaatkan angguna sebagai alat transportasi dan sayangnya sekarang angguna sudah punah. Itu sangat berkesan sekali dalam perjalanan hidup kami,” Ungkap wanita yang akrab disapa dengan sebutan Bunda Cita ini.

Tak berhenti sampai disitu, Cita Entertainment akan terus melakukan inovasi peralatan dan diimbangi dengan SDM profesional. Maka dari itu, untuk kedepannya Cita Entertainment akan senantiasa menjadi perusahaan yang terus berkembang.

 “Insya Allah, Cita Entertainment akan terus melebarkan sayapnya. Salah satunya kami akan membangun sebuah pesantren tahfidz yang saat ini sudah berdiri dan sedang dalam tahap renovasi,” ujar Cita saat diwawancarai lewat WhatsApp.

Bagi Cita sukses itu adalah pertemuan antara kemampuan, kemauan dan kesempatan. Ia memiliki keyakinan dalam dirinya bahwa semua yang bisa dibayangkan akan bisa diwujudkan, semua yang bisa diimpikan akan bisa menjadi kenyataan, semua yang bisa dikejar akan berada di genggaman tangan. Hal ini berarti sebuah kesuksesan itu adalah bagaimana cara kita mempersiapkannya.

Masih banyak cerita perjuangan dibalik kesuksesannya saat ini, Cita yang dulunya hanya bisa naik angguna, sekarang telah memiliki 13 unit mobil sendiri. Namun, tak bisa dipungkiri juga di luar sana masih ada banyak orang berfikir dan hanya melihat seseorang saat berada di puncak kesuksesannya saja, banyak orang yang lupa bahwa orang-orang sukses itu membangunnya dengan langkah demi langkah, dengan pengalaman yang terus dikembangkan dan disiplin yang tinggi hingga mendapatkan yang terbaik.

 “Orang sukses adalah orang yang pernah salah, pernah gagal tapi terus bangkit dan mencoba lagi sampai mendapatkan goal-goal sesuai dengan yang diimpikan. Saya memiliki keyakinan bahwa ketika kita bersungguh-sungguh maka kita akan menemukan jalan keluar,” pungkasnya.

Penulis : Ike May Ardianti (B91218112) / JR3 / Praktikum 1

Sabtu, 03 Juli 2021

Dari Banyak Bicara Hingga Jadi Pembicara

 

Penuh semangat: (kiri) Cita Cita Nur Qomariyah menjadi pembawa acara di resepsi pernikahan salah satu keluarga di pondok pesantren Dresmo bersama Nisa Sabyyan (kanan).


“Tapi yang jelas saya sejak kecil suka ngomong sih,” itulah awal mula perempuan bergingsul tersebut unjuk gigi tentang bakatnya. Kesukaanya dalam beretorika sejak dini mengantarkan petualangannya Cita Nur Qomariyah mengisi acara hajatan level kampung hingga level gedung putih alias istana presiden. 

Perempuan kelahiran 11 Maret tersebut menggeluti dunia public speaking sejak duduk dibangku Sekolah Dasar (SD). Mulai menjadi Master Ceremony (MC) saat upacara bendera, hingga protokoler adalah cara perempuan kelahiran kota angin tersebut mengasah bakatnya.

“Saya selalu memilih itu, kalau saya boleh memilih saya akan selalu memilih menjadi MC,” tegasnya saat diwawancarai kru 6 via WA.

Disamping itu untuk mengoktimalkan bakatnya dalam public speaking, ketika tinggal di pondok Pesantren Darul Ulum 3, ia sering mengikuti aktivitas  yang mengarah pada seni dan religi seperti group sholawat al-banjari, merching band, dan qiro'ah.

“Ketika saya di pondok saya sangat antusias ketika ada acara muhadloroh, qitobah, dan lain-lain. jadi hal-hal yang terkait penampilan saya di depan publik itu sangat saya minati,” tambahnya. 

Perempuan lulusan pesantren Darul Ulum 3 tersebut saat ini berprofesi menjadi Dosen luar biasa disalah satu kampus Islam negeri, di kota Surabaya. Kegemarannya dalam mendalami ilmu-ilmu retorika mengantarkan dirinya menjadi pembicara berkeliling di berbagai tempat. Tak sedikit juga mulai dari  komunitas, organisasi, hingga kampus sering mengundangnya sebagai pembicara yang memiliki kompetensi dan integritas.

Perempuan yang dikenal memiliki multitalenta ini memilih menajdi public speaker sebagai keilmuan yang digeluti bukan tanpa alasan. Cita menjelaskan bahwa cara menyebar kebaikan dengan mendalami ilmu public speaking. Selain itu ia menegaskan bahwa tidak ada suatu keilmuan yang tidak berkaitan dengan public speaking.

“Saya rasa anak muda sekarang harus mempelajari ini, sehebat apapun isi otak kita, kalau kita tidak dapat mempresentasikan ke ranah publik tidak akan menjadi manfaat yang maksimal,” tambahnya.

Disamping aktivitasnya menjadi dosen, perempuan yang memiliki tiga putra tersebut juga aktif sebagai vokalis grup band gambus, dan menjadi owner serta menjabat sebagai wakil direktur Cita Intertaiment. Berkat keuletan dan kesabaran Cita saat ini mampu mengembangkan hobi dan kesenangannya menjadi sebuah karier dan bisnis.

Selain lihai dalam beretorika, perempuan yang mengidolakan Almarhum Kyiai Hasyim Muzadi ini sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) juga  menekuni hobi olah raga seperti tenis meja yang puncak prestasinya, mengantarkan dirinya mewakili ketingkat provinsi menjadi atlit tenis meja.

"selain itu saya juga menekuni beladiri Kempo, voli, senam, dan yoga olah tubuh lainnya, yang itu sangat menunjang kualitas pernafasan kita, karna menjadi seorang public speaker hal itu sangat penting," tambahnya.

Perempuan segudang bakat ini ketika duduk di bangku pesantren sering menorehkan prestasi akademik maupun non akademik. seperti halnya ia pernah mendapatkan juara dan diminta mewakili sekolah untuk mengikuti kompetisi bergengsi. Seperti pernah menyabet juara 1 mayored terbak festival dramband pada tahun 1990, MTQ juara 2 sekabupaten Jombang, serta juara 1 baca puisi sekabupaten Jombang.(Ga)

Penulis: Uma Ageng Pathu P (B71218087) / JR3 / Praktikum 1

Selasa, 08 Juni 2021

Multimedia Journalism : Perbandingan Jurnalisme Dulu dengan Sekarang

 

Penuh Antusias: Riza Roidilla Mufti saat menerangkan jurnalsime era saat ini di International workshop, via zoom Sabtu, (5/6).

Surabaya -  Sabtu, (5/6) International workshop bertajuk  “Multimedia Journalism”  berhasil digelar oleh  Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas  Islam Negeri  Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Workshop kali ini menjelaskan pengetahuan seputar multimedia journalism, dengan salah satu topik yakni perbedaan jurnalisme dulu dengan jurnalisme sekarang.

Kegiatan yang digelar secara virtual melalui Zoom Meeting pada pukul 13:00-16:30 WIB ini menghadirkan dua orang pemateri yaitu Anbreen Yasin, seorang Penulis di Media Massa Internasional yang berasal dari Pakistan dan Riza Roidila seorang jurnalis multimedia yang saat ini tinggal di Belgia. 

Dalam pemaparannya Riza menyampaikan bahwa jurnalisme, delapan sampai sepuluh tahun yang lalu dengan jurnalisme saat ini sangatlah berbeda. Perbedaanya yakni delapan tahun yang lalu jurnalis dalam menulis sebuah berita menggunakan komputer dan harus datang ke news room.

“Berbeda dengan jurnalis saat ini, mereka tidak perlu lagi kembali ke news room, seorang jurnalis diharapkan bisa bekerja dengan cepat menggunakan alat digital dan gadget di tempat,” terang perempuan dalam presentasinya.

Penuh Semangat: Riza  Roidilla Mufti saat menyimpulkan tiga poin penting yang harus dimiliki seorang jurnalis


Selain itu Riza juga menyimpulkan jurnalisme saat ini ke dalam tiga poin penting diantaranya yang pertama jurnalis saat ini sangat paham teknologi digital, dan smartphone adalah sahabat mereka, selanjutnya yang kedua, jurnalis diharapkan bisa bekerja dengan cepat karena mereka harus langsung menulis dan mengirimkan berita di tempat, yang terakhir jurnalis juga diharapkan memiliki keterampilan multimedia tidak hanya menulis namun juga mengambil foto ataupun video.

Riza juga menegaskan bahwa seorang jurnalis harus mandiri dan mampu menguasai banyak keterampilan karena akan ada banyak acara yang perlu diliput dalam satu hari.

News room tidak memiliki jumlah fotografer dan videografer sebanyak jurnalis. Jadi apabila kita pergi meliput tanpa ditemani seorang fotografer atau videografer kita bisa mengambilnya sendiri,” tambahnya.

Sebelumnya, kegiatan ini dimoderatori oleh dosen KPI Fikry Zahria lalu dibuka oleh Dekan FDK, Abdul Halim sekaligus memberikan opening speech. Selain itu dihadiri juga oleh Kepala Prodi (Kaprodi) KPI, Abdul Syakur dan mahasiswa KPI sebagai peserta baik dari angkatan 2020 hingga 2018. (ike)

Kamis, 29 April 2021

Minggu, 28 Maret 2021

Kosmologi Dakwah dan Kulturasi Dakwah Sebagai Madzhab Wasathiyah Sunan Ampel

 

 Prihananto saat presentasi buku Madzhab Dakwah Wasathiyyah Sunan Ampel di depan tamu undangan di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Jumat (26/3)

Surabaya- Tim penulis buku Madzhab Dakwah Wasathiyyah Sunan Ampel, Prihananto, mengaku bahwa ada dua hal yang menjadi dasar bahwa dakwah sunan ampel bermahzab wasathiyah, yakni yang pertama kosmologi dakwah dan kulturasi dakwah.

Prihananto dalam presentasinya menegaskan yang dimaksut dengan kosmologi dakwah, yakni sunan ampel dalam aktivitas dakwahnya senantiasa menyeimbangkan dengan alam sekitarnya, selain itu yang dimaksut dengan kulturasi dakwah ialah gerak kulural Sunan Ampel yang berkaitan dengan kultur budaya.

“Dua base line inilah yang membuat kita berani mengklaim bahwa dakwah sunan ampel bermahzab wasathiyah,” tambahnya, saat mempresentasikan buku Madzhab Dakwah Wasthiyah Sunan Ampel  di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Jumat (26/3).

Selain itu, buku ini merupakan sebuah konsep baru dengan substansi lama yang menghadirkan sebuah rekontruksi sejarah sekian ratus tahun yang lalu mengenai konsep dakwah wasathiyah Sunan Ampel.

Di samping itu, perbedaan buku ini dengan buku-buku lain yakni dalam pembuatannya mengakses delapan sumber primer langsung.

“Sebelum buku ini selesai ditulis, kita juga menghadirkan sejarawan kondang nusantara yaitu Bapak Ahmad Basu dan Agus Sunyoto yang terkenal keahliannya dalam bidang perwalian,” tambahnya.

Buku ini menjelaskan bagaimana kiprah Sunan Ampel, Selain itu menjelaskan silsilah Sunan Ampel lebih dekat meliputi masa kelahirannya, sampai hijrah ke Jawa lalu menyebarkan Islam di Ampel Denta, hingga menceritkan akhir hayatnya.

Lelaki berbaju batik tersebut, juga menjelaskan bahwa pembuatan buku Madzhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel merupakan amanah bersama untuk menjunjung tinggi dan bertanggung jawab terhadap nama Sunan Ampel.

“Bukanlah pekerjaan yang mudah maka bagaimanapun juga harus kita lakukan,” pungkasnya.

Selain peluncuran buku Madzhab Dakwah Wasathiyyah Sunan Ampel, Acara Milad Emas FDK Ke-50 juga dimeriahkan dengan  pelaunching Da’wah Wasathiyyah Center For Research and Publication oleh menteri agama Yaqut Cholil Qoumas. (Kelompok 6)

Sabtu, 27 Maret 2021

Mentri Agama Hadiri Peluncuran Buku Madzhab Dakwah Wasathiyyah Sunan Ampel Pada Milad FDK ke-50

Mentri Agama, Yaqut Cholil Qoumas saat beri sambutan di acara Milad FDK Uinsa Ke-50, di Surabaya, Jumat (26/3)
Surabaya-  Jumat (26/3), Milad Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya yang ke 50 tahun di meriahkan dengan peluncuran buku Madzhab Dakwah Wasathiyyah Sunan Ampel serta launching Da’wah Wasathiyyah Center For Research and Publication oleh menteri agama Yaqut Cholil Qoumas.

Dalam sambutannya Yaqut mengajak mahasiswa dan seluruh alumnus FDK meneladani ajaran islam yang disebarkan oleh Raden Mohammad Ali Rahmatullah atau yang dikenal dengan Sunan Ampel.

“Terbukti dakwah yang diajarkan oleh Sunan Ampel  mampu menyebarkan ajaran Islam secara damai tanpa diliputi kekerasan dan pertumpahan darah,” ujarnya saat berdiri di atas podium.

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Anshor tersebut juga menegaskan bahwa model dakwah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta moderat patut untuk ditiru agar sepirit agama terus terjaga dengan baik.

Oleh karena itu, Lelaki yang kerap disapa Gus tersebut, mengungkapkan bahwa upaya ijtihad yang dapat dilakukan yakni mendirikan Rumah Moderasi Beragama di PTKIN dan Center For Research and Publication untuk mempertegas madzhab Islam Wasathiyyah, yang hakikatnya merupakan DNA di Kementrian Agama (Kemenag).

“DNA ini harus terus diperkuat agar sector Pendidikan di Kemenag menjadi role mode bagi kementerian yang lain,” tegasnya

Ditempat yang sama, Rektor Uinsa, Masdar Hilmy mengatakan, semangat wasathiyyah Sunan Ampel berusaha diterjemahkan dengan konsep serta paradigma keilmuan integrated twin towers, sejak perubahan status kelembagaan, IAIN menjadi Uinsa Surabaya di tahun 2013.

Selain itu, Emil Dardak selaku Wakil Gubernur Jawa Timur mengapresiasi serta berharap buku tersebut dapat menjadikan pemikiran dan referensi baru mengenai keislaman Nusantara dan Wali Songo.

“Sebab, keislaman di Indonesia tidak terlepas dari peran Wali Songo,” tandasnya.

Penuh Semangat: Penampilan Angklung Kolintang Saat Mengisi acara Milad FDK Uinsa Ke-50, di Hotel Mercure Surabaya

Kegiatan yang bertajuk ‘Menguatkan Jejaring Alumni Untuk Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan FDK Uinsa 2020-2025’ tersebut bertempat di hotel  Mercure Surabaya. Dilansir dari kemenag.go.ig, kegiatan ini dihadiri oleh Guru Besar FDK Uinsa, Kakanwil Kemenag Jawa Timur Ahmad Zayadi, Pengurus PWNU Jatim, para rektor PTKIN dan segenap civitas akademika Uinsa dan dimeriahkan dengan berbagai penampilan Angklung Kulintan dan berbagai penampilan lainnya. (Kelompok 6)

Bunda Cita: Karena Kesuksesan Tidak Akan ada Artinya Ketika Keluarga Berantakan

  Potret bunda cita bersama keluarga yang diunggah di akun instagramnya @citahelmy Menjadi seorang professional dalam dunia hiburan menuntut...