Minggu, 28 Maret 2021

Kosmologi Dakwah dan Kulturasi Dakwah Sebagai Madzhab Wasathiyah Sunan Ampel

 

 Prihananto saat presentasi buku Madzhab Dakwah Wasathiyyah Sunan Ampel di depan tamu undangan di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Jumat (26/3)

Surabaya- Tim penulis buku Madzhab Dakwah Wasathiyyah Sunan Ampel, Prihananto, mengaku bahwa ada dua hal yang menjadi dasar bahwa dakwah sunan ampel bermahzab wasathiyah, yakni yang pertama kosmologi dakwah dan kulturasi dakwah.

Prihananto dalam presentasinya menegaskan yang dimaksut dengan kosmologi dakwah, yakni sunan ampel dalam aktivitas dakwahnya senantiasa menyeimbangkan dengan alam sekitarnya, selain itu yang dimaksut dengan kulturasi dakwah ialah gerak kulural Sunan Ampel yang berkaitan dengan kultur budaya.

“Dua base line inilah yang membuat kita berani mengklaim bahwa dakwah sunan ampel bermahzab wasathiyah,” tambahnya, saat mempresentasikan buku Madzhab Dakwah Wasthiyah Sunan Ampel  di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Jumat (26/3).

Selain itu, buku ini merupakan sebuah konsep baru dengan substansi lama yang menghadirkan sebuah rekontruksi sejarah sekian ratus tahun yang lalu mengenai konsep dakwah wasathiyah Sunan Ampel.

Di samping itu, perbedaan buku ini dengan buku-buku lain yakni dalam pembuatannya mengakses delapan sumber primer langsung.

“Sebelum buku ini selesai ditulis, kita juga menghadirkan sejarawan kondang nusantara yaitu Bapak Ahmad Basu dan Agus Sunyoto yang terkenal keahliannya dalam bidang perwalian,” tambahnya.

Buku ini menjelaskan bagaimana kiprah Sunan Ampel, Selain itu menjelaskan silsilah Sunan Ampel lebih dekat meliputi masa kelahirannya, sampai hijrah ke Jawa lalu menyebarkan Islam di Ampel Denta, hingga menceritkan akhir hayatnya.

Lelaki berbaju batik tersebut, juga menjelaskan bahwa pembuatan buku Madzhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel merupakan amanah bersama untuk menjunjung tinggi dan bertanggung jawab terhadap nama Sunan Ampel.

“Bukanlah pekerjaan yang mudah maka bagaimanapun juga harus kita lakukan,” pungkasnya.

Selain peluncuran buku Madzhab Dakwah Wasathiyyah Sunan Ampel, Acara Milad Emas FDK Ke-50 juga dimeriahkan dengan  pelaunching Da’wah Wasathiyyah Center For Research and Publication oleh menteri agama Yaqut Cholil Qoumas. (Kelompok 6)

Sabtu, 27 Maret 2021

Mentri Agama Hadiri Peluncuran Buku Madzhab Dakwah Wasathiyyah Sunan Ampel Pada Milad FDK ke-50

Mentri Agama, Yaqut Cholil Qoumas saat beri sambutan di acara Milad FDK Uinsa Ke-50, di Surabaya, Jumat (26/3)
Surabaya-  Jumat (26/3), Milad Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya yang ke 50 tahun di meriahkan dengan peluncuran buku Madzhab Dakwah Wasathiyyah Sunan Ampel serta launching Da’wah Wasathiyyah Center For Research and Publication oleh menteri agama Yaqut Cholil Qoumas.

Dalam sambutannya Yaqut mengajak mahasiswa dan seluruh alumnus FDK meneladani ajaran islam yang disebarkan oleh Raden Mohammad Ali Rahmatullah atau yang dikenal dengan Sunan Ampel.

“Terbukti dakwah yang diajarkan oleh Sunan Ampel  mampu menyebarkan ajaran Islam secara damai tanpa diliputi kekerasan dan pertumpahan darah,” ujarnya saat berdiri di atas podium.

Ketua Gerakan Pemuda (GP) Anshor tersebut juga menegaskan bahwa model dakwah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta moderat patut untuk ditiru agar sepirit agama terus terjaga dengan baik.

Oleh karena itu, Lelaki yang kerap disapa Gus tersebut, mengungkapkan bahwa upaya ijtihad yang dapat dilakukan yakni mendirikan Rumah Moderasi Beragama di PTKIN dan Center For Research and Publication untuk mempertegas madzhab Islam Wasathiyyah, yang hakikatnya merupakan DNA di Kementrian Agama (Kemenag).

“DNA ini harus terus diperkuat agar sector Pendidikan di Kemenag menjadi role mode bagi kementerian yang lain,” tegasnya

Ditempat yang sama, Rektor Uinsa, Masdar Hilmy mengatakan, semangat wasathiyyah Sunan Ampel berusaha diterjemahkan dengan konsep serta paradigma keilmuan integrated twin towers, sejak perubahan status kelembagaan, IAIN menjadi Uinsa Surabaya di tahun 2013.

Selain itu, Emil Dardak selaku Wakil Gubernur Jawa Timur mengapresiasi serta berharap buku tersebut dapat menjadikan pemikiran dan referensi baru mengenai keislaman Nusantara dan Wali Songo.

“Sebab, keislaman di Indonesia tidak terlepas dari peran Wali Songo,” tandasnya.

Penuh Semangat: Penampilan Angklung Kolintang Saat Mengisi acara Milad FDK Uinsa Ke-50, di Hotel Mercure Surabaya

Kegiatan yang bertajuk ‘Menguatkan Jejaring Alumni Untuk Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan FDK Uinsa 2020-2025’ tersebut bertempat di hotel  Mercure Surabaya. Dilansir dari kemenag.go.ig, kegiatan ini dihadiri oleh Guru Besar FDK Uinsa, Kakanwil Kemenag Jawa Timur Ahmad Zayadi, Pengurus PWNU Jatim, para rektor PTKIN dan segenap civitas akademika Uinsa dan dimeriahkan dengan berbagai penampilan Angklung Kulintan dan berbagai penampilan lainnya. (Kelompok 6)

Bunda Cita: Karena Kesuksesan Tidak Akan ada Artinya Ketika Keluarga Berantakan

  Potret bunda cita bersama keluarga yang diunggah di akun instagramnya @citahelmy Menjadi seorang professional dalam dunia hiburan menuntut...